Share |

Sekali Layar Terkembang Surut Kita Berpantang...
Tampilkan postingan dengan label suara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label suara. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Oktober 2010

DILEMATIKA HIDUP SANG AKTIFIS


Dipagi yang cerah itu, matanya terbuka disela-sela nafas menghirup udara pagi, sembari duduk menatap mentari yang gagah berani memberikan cahaya silau bagi mereka-mereka yang menatapnya..hatinya sejenak terpaku dan berpikir tentang rentanya zaman yang menuntut manusia harus berpikir keras..!! Bumi pertiwiku dulu tumpahan darah dari pejuang-pejuangmu begitu besar demi membebaskanmu dari penjajahan belanda dan sekutu, namun kini tetap saja hegemoni kapitalisme dan penjara-penjara birokrasi menjadi hantu ditengah kota atas kaum-kaum proletar yang berada dipangkuanmu...kenapa potret kehidupan ini menjadi imagemu ditengah-tengah peraban dunia???!!

Yah...itulah yang ada dibenaknya pagi itu, tanpa sadar mentari terus berjalan menuju arah siang..hari ini aku harus kekampus menunaikan dan melanjutkan kewajibanku dibidang pergerakan ataupun dibidang akademis, dengan langkah kaki yang cukup jauh sang aktifis itu menuju tempat perjuangannya..dunia kampus yang konon identik dengan kaum-kaum yg intelektual dan kaum-kaum yang pintar, namun lagi-lagi matanya sedikit tak berkedip ketika sejuta idealisme yang ingin ia bawa malah terbentur oleh sikap-sikap apatisme dan hedonisme ditambah lagi dengan penghuninya yang hanya bergaya style..apakah ini kampus FISIP atau kampus model??!! Pertanyaan itu ia buang jauh-jauh sebab ia sadar ia hadir bukan untuk menjustifikasi orang lain,.!! Sang aktifis terus mengitari kampus yang disesaki oleh aktifitas belajar mengajar, kembali ia berfikir ketika melihat lembaran-lebaran daftar hadir bergulir dan silih berganti ditanda tangani oleh mahasiswa/i . absensi, sistem SKS, dll....apakah benar ini hanya simbol mekanisasi pendidikan yang sebenarnya kontradiktif dengan nilai-nilai ideal mahasiswa?? Kenapa simbol itu menutup mata mereka melaksanakan tridharma perguruan tinggi yang ketiga?! Apakah mereka mahasiswa atau sekadar orang kuliah??

Duch...Kampusku, identik dengan kehidupan akademik dengan kehidupan mahasiswa yang beragam dan unik, serta dalam setiap langkahnya pasti membawa cerita yang berbeda. IPK menjadi mimpi indah bagi mereka, Ada beragam sisi yang ia lihat, sisi yang mampu membawa setiap insan mahasiswa yang terlibat di dalamnya untuk bercengkrama, berdiskusi, berpolitik kampus, ataupun hanya sekedar datang dan pulang tanpa membawa kesan.

Pesta, buku dan cinta. Tiga paket kebijakan yang tidak pernah lepas dalam kehidupan kampus, dan identik dengan kehidupan mahasiswanya. Pesta bisa di artikan secara harafiah ataupun secara occasionally disesuaikan dengan keadaan yang terjadi. Tetapi, pesta sudah diidentikkan dengan keadaan bersenang-senang untuk menghabiskan uang dan mendapatkan kepuasan sesaat untuk kemudian menagih pada hari-hari berikutnya. persinggungan dialogis antara ketiga kutub ini memungkinkan terbangunnya pertentangan bagaimana “bermahasiswa” yang kontekstual..!! sahabat-sahabatku, kata-kataku ini bukan untuk mendiskreditkan dirimu...ini hanya seberkas bahasa hati kecil ditengah badai yang menyapa..!!

Dengan sikap yang tertegun hati kecilnya berkata: ya Rabb...peradaban dunia dengan segala arus modernisasi begitu kejam, sucinya bumi pertiwi disesaki oleh elit-elit politik yang telah dijejali pelacur-pelacur matrealis yang korup, yang libido kerakusan mereka telah terangsang oleh uang, doktrinitas kekuasaan telah membuat manusia menjadi pemangsa bagi manusia lain, makluk suci yang Engkau ciptakan malah menelanjangi kehormatan mereka sendiri dengan sikap-sikap praktis dan pragmatis, ini telah terjadi dibumi pertiwiku...lantas apakah pantas jasad-jasad yang berjiwa dikampus ini hanya diam?? Apakah mereka tuan-tuan terjajah atau malah budak-budak peradaban?? Ya Rabb...Engkau maha pengasih dan penyayang, bukakanlah hati mereka-mereka yang selalu diam dan terdiam..!!

Ss..ss..tt...nafasnya kian ia tarik dan mencoba melawan kehampaan, tarik ulur kehidupan membuat ia tak ingin seperti layang-layang yang terbang tanpa angin, panca indra yang berlidah ia coba gunakan untuk berkoar-koar ditengah mereka-mereka yang lupa dan terlupa, mencoba menyadarkan hati-hati yang tersakiti skalipun hati itu hanya diam tanpa tuntutan, kawan-kawanku...hari ini kau masih hidup, engkau masih ada tempat untuk berdialetika dengan waktu, beretorika melawan kebijakan yang telah terdistorsi oleh bahasa-bahasa kebohongan,.!! Bahkan melekul-melekul dan gumpalan darah yang mengalir disekujur tubuhmu ingin menyaksikan dirimu memperjuangkan sebuah kebenaran bukan hanya melakukan pembenaran. Relakah kalian jika torehan sejarah yang tercipta oleh pendahulu-pendahulu kita ketika malari, mei 1998, pudar oleh sikap hidup tanpa kesadaran,..!! menjadi generasi-generasi tanpa juang?!! tutur dan kata itu terus ia dendangkan walaupun cuek dan sikap apatis yang menjadi jawaban atas kata-kata itu..!!

Dibalik tangan-tangan perjuangannya yang ingin ia terapkan ternyata sederet harapan tentang cinta tersembunyi didalam tata warna kehidupannya, namun ia coba menepis kuat rasa itu...tapi terlalu naif memang jika ia harus berbohong pada jiwanya yang mulai rapuh oleh dunia yang terlupa, Tidak...aku tidak mungkin menzhalimi diriku hanya karna ego atas mimpi yang terpulang, jiwa ini membutuhkan senyuman dari orang lain yang hal itu adalah special dan bukan hal yang parsial, tapi aku juga tak ingin terjebak pada alibi yang mengatakan wanita adalah simbol kelemahan, aku percaya bahwa sentuhan-sentuhan hati itu bisa aku konversi menjadi sebuah kekuatan dalam langkah yang mulai luntur, tapi dimana aku harus mencari...didalam keramaian atau dalam kesendirian, didasar lembah kegundahan atau dipuncak kegembiraan?? Tuhan bukakan hamba tabir rahasia itu..

Dualisme tentang pergerakan dan cinta menuntut ia harus mampu bersikap dewasa,.didataran kota ini, dibumi yang kupijak dan bumi yang aku junjung adalah saksi tentang aku yang harus berguna untuk orang lain, melihat bagaimana tangisan-tangisan disudut kota, perempatan jalan yang berisi mobil mewah tapi disampingnya berdiri orang lemah yang termarginalkan oleh keadaan, ditambah lagi melihat koruptor yang menyebar dan menebar dosa diselingi bandit-bandit intelektual yang tertawa dibalik gedung-gedung mewah..!! Tuhan..tumpulnya tatapan mataku, dan lunglainya tulang belulangku aku membawa jutaan doa yang aku hadapkan kepada-Mu, sambil merenungi diri apa aku pantas bergelar aktifis?? Aku selalu menyebut ”Hidup Rakyat” namun ketika aku makan pernahkah aku berpikir tentang mereka-mereka yang belum makan?!! Engkau maha hidup sedang hamba makhluk binasa, tapi salahkah hamba ketika bermimpi untuk merenkonstruksi hidupku dan hidup orang lain, mencoba melawan dosa-dosa politik sang penguasa yang terus bersenggama dengan kedholiman..!!

Sang aktifis menyadari bahwa zaman adalah nyanyian waktu, ia takut idelisme yang ia bawa hanya cerita indah saat ini dan hanya puisi-puisi tinggi bagi mereka yang hanya komentator bukan eksekutor, dan ia tak ingin tergoda oleh panggung-panggung sandiwara dunia yang menjanjikan keasyikan namun penuh ketiadaan..

Ditengah deru nafas yang berlalu dan darah yang selalu mengalir otaknya kembali berfikir tantang kata sang dosen yang memberi arahan kepada sang akitifis bahwasanya seorang aktifis sering kali tak bersentuhan dengan romantisme cinta, namun jika aktifisme itu membuat wanita terpesona kenapa tidak memanfaatkan keadaan??!! Ha...ha...ha......ia tertawa, tidak,,,,,apa pantas aku disebut aktifis sementara aku belum intens dalam memberikan gerakan-gerakan yang kontibutif dan secara signifikan untuk mengubah ribuan kebijakan sesat dibangsa ini, tapi gelar aktifis itu semoga bisa menjadi stimulasi demi membangkitkan jiwa-jiwa yang rapuh..!!

Kembali pada pemikiran itu ia mencoba mendiskripsikan tentang dualisme aktifisme dan cinta, hati kecilnya dipenuhi jutaan spekulasi yang menghadirkan persimpangan..sang teman kembali mengingatkan kepadanya bahwa seorang aktifis diciptakan untuk melawan penindasan, wajar jika aku berpikir, jika aku selalu berbicara tentang penindasan kenapa aku harus menindas diriku sendiri hanya karena takut terjebak pada pesta, buku, dan cinta??? Mungkin ini paradigma pemikiran yang salah....!! Yach...kenapa aku terlalu subyektif mendefinisikan cinta? Padahal setiap perjuangan itu idealnya berlandaskan cinta.... cinta keadilan, cinta kepada tanah air..dan mungkin cinta kepada orang yang pantas untuk kita sayangi..!! Tanpa sadar kita sering menjadi manusia yang fatalis...!! Sadarkan aku Tuhan....aku bukan malaikat yang tak mempunyai rasa ataupun makhluk yang sempurna, aku juga butuh kasih sayang dari orang lain...aku harus berani melawan kehampaan itu..!!

Dilematika hidup itu terus ia jalani seiring waktu dan alur kehidupan, mencoba menginterpretasikan tentang hidup dan kehidupan, aku harus sadar karena hidup tanpa kesadaran bagaikan jasad tanpa jiwa, dimensi hidup tentang cinta, masa depan, aktifisme harus mampu aku genggam, demi sebuah pengabdian antara ciptaan kepada Tuhan, antara anak kepada orang tua, serta antara laki-laki kepada wanita, jika aku terpaksa kalah pada medan pertempuran maka aku harus menang pada medan peperangan, aku takkan menyerah walau lelah selalu hadir dipundakku..

Masih teringat jelas diotaknya dan masih tergambar jelas dipelupuk matanya ketika ia dan kawan-kawan membawa aspirasi dihalaman salah satu institusi penegak hukum, ditengah orasi yang terus diperdengarkan diantara massa aksi ia kembali berpikir, dikantor ini adalah simbol dari penegakan hukum namun kenapa selalu diisi oleh penghuni-penghuni yang selalu terbutakan oleh keasyikan dunia? Sistem hirarki komando menjebak penghuninya menjadi komoditi utama sang penguasa dalam mempertahankan kekuasaan, aparat-aparat keamanan itu tanpa sadar telah menjarah keamanan rakyat, menjadi budak-budak penguasa dalam melegitimasi bentuk-bentuk penjajahan keadilan rakyat, diwaktu itu yang ada dalam hatinya adalah tentang perjuangan, hati kecilnya berkata..andai sang wanita itu ada apakah ia akan mengizinkan aku mengorbankan segenap jiwa raga demi mereka yang tertindas? Jika disini hadir kedua orang tuanya apakah orang tua itu akan mengizinkan sang anak bertempur ketika dihadapannya berdiri gagah water canon dan gas air mata?? Bunda relakan darah juang kami, ini adalah persinggungan hati dan logika..!!......plat nama jalan yang bertuliskan nama sang pahlawan jendral sudirman membangkitkan ia dari ketakutan, andai peluru-peluru yang tersimpan dibalik etalase megah Mapolda itu telah bertuliskan namaku....maka jasad yang berjiwa ini tak akan pernah gentar dan tak akan tertindih oleh ketakutan, karena hal itu hanya akan membawaku pada tatanan hidup yang penuh kemandulan.

Pasca kejadian itu tersiar kabar bahwa sang aktifis dan beberapa temannya yang lain menjadi target operasi (TO) oleh institusi itu, ia mencoba menepis dan menyadarkan dirinya mungkin ini hanya sekadar gosip, namun jika hal ini benar maka ia harus yakin bahwa Tuhan adalah penjaga terbaik bagi dirinya, batasan hati dan logika akan selalu membuatnya tersenyum sambil membawa mimpi-mimpi indah itu kedepan, kamuflase pemikiran itu harus aku rangkai agar eksebilitas kehidupanku menjadi lebih baik, bukankah lebih baik mati di garis perjuangan dibanding mati dilumbung kemunafikan, bukankah kupu-kupu yang berani terbang diatas api lebih mulia dibanding tikus-tikus yang selalu bersembunyi??!!

Ia terus berjalan mencari kata melangkah pada jejak-jejak yang tersisa dan merangkai sebuah etika yang tumbuh diatas pelangi harapan, wahai kata temui aku dialam sadarku, korelasi antara perjuangan dan romantisme cinta harus aku temui disini, bodoh sekali rasanya jika harus menjalani hidup layaknya seorang terdakwa yang menanti eksekusi hukuman mati, padahal hari esok masih ada kesempatan untuk berbicara dan berdinamika dengan sang waktu, sombongnya gedung-gedung bertingkat dan congkaknya negeri ini adalah tantangan berat bagi sang pejuang, dan semoga sang pejuang tak terjebak pada transformasi pemikiran kaum-kaum intelektual yang telah terkontaminasi oleh penjahat-penjahat keadilan, dan disinilah kawan-kawan harus berdiri membukakan jalan kemanusiaan itu.

Semoga catatan singkat ini bukanlah catatan orang-orang mati yang terlambat diucapkan, bukan hanya sekadar mengisi ruang namun miskin makna....sebuah kata adalah senjata untuk sebuah perenungan jiwa bagi mereka-mereka yang mampu berpikir, perjalanan masih jauh sang aktifis akan terus melangkah mencari arti tentang hidup dan kehidupan, tentang perjuangan dan cinta dengan sejuta warna yang terkandung didalamnya, karena perjuangan hanya akan selesai bila hidup telah usai..!!

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. Ar-Rahman [55:13])

Post via Facebook by: Rachman (Ketua Satma PP Korti UNRI)

Sabtu, 16 Oktober 2010

SUMPAH PEMUDA, MASIHKAH BERLAKU ???

Persatuan dan pembangunan serta pertahanan sebuah bangsa tidak akan pernah lepas dari peran serta para pemuda untuk mewujudkannya, kemerdekaan bangsa indonesia sebagai salah satu contoh bahwa pemuda lah yang mampu untuk mewujudkannya, dengan semangat dan kekuatan mental untuk merdeka akhirnya pada 17 agustus 1945 kemerdekaan itupun di proklamirkan atas nama bangsa indonesia oleh bung karno yang setelah itu diangkar menjadi Presiden pertama Republik Indonesia.


namun jauh sebelum itu semangat untuk bersatu dan merdeka telah di bangun oleh pemuda - pemudi bangsa ini, untuk pertama kali dalam sejarah pada tahun 1908 melalui bung tomo, kebangkitan bangsa ini di wujudkan dengan lahirnya gerakan untuk bangkit dan bergerak untuk mewujudkan kemerdekaan, namun dengan masih terkotak - kotaknya pemuda saat itu, kemerdekaan dan pergerakan masih dilakukan secara kelompok dan tidak didasari kepentingan bersama, dan pada tanggal 28 oktober 1928, para pemuda pemudi indonesia mengumandangkan sumpah pemuda yang menjadi perekat semangat kebersamaan untuk mewujudkan indonesia yang merdeka.


namun sejalan dengan perjalanan sejarah yang selalu mengalami perubahan dari masa dan era yang berbeda, sumpah itupun seolah - olah mulai terkikis kembali dalam jiwa pemuda indonesia saat ini, entah apa yang mendorong sumpah itu , namun itulah kenyataan yang semakin memprihatinkan ibu pertiwi saat ini, terlihat jelas dengan perubahan era - era kepemimpinan dan perkembangan zaman saat ini sangat berdampak pada jati diri pemuda yang di ilhami oleh sebuah sumpah sebagi perekat semangat persatuan para pemuda.Ataukah memang masa berlaku sumpah itu sudah habis, sehingga tidak lagi menjadi ruh bagi persatuan bangsa saat ini. dan bukan lagi menjadi landasan yang menjiwai pergerakan para pemuda saat ini, pengelompokan para pemuda terus terjadi dengan wajah sebuah demokrasi yang menjadi kemasan guna memperlihatkan keindahannya semata, sementara banyak nilai - nilai kebangsaan yang terlupakan oleh para pemuda saat ini, memilukan memang melihat terjadi perang, bentrok dan aksi - aksi anarkis yang terjadi antar pemuda yang berbeda etnis, agama dan ras.


Hal ini harus disadari oleh para pemuda, bahwa saat ini sudah saatnya kita kembali menjadi Pemuda Indonesia yang telah mengikrarkan sebuah sumpah sebagai pemuda yang berbangsa, bertanah air, dan berbahasa indonesia, dan mampu meguatkan persatuan guna mewujudkan kokohnya bangsa ini ditangan generasi muda. dan Sudah seharusnya pemerintah memperhatikan perkembangan pemuda bangsa ini, jangan hanya mengutamakan kepentingan semata dan hanya memanfaatkan para pemuda sebagai alat untuk mengawal kepentingan politik semata.

Pemuda Indonesia harus bangkit dan bersatu membangun, menjaga dan mempertahankan keutuhan bangsa dan tanah air.

Kita adalah Pemuda bangsa sebagai pelaksana perubahan dan menjadi kontrol sosial yang menjadi harapan semua rakyat Indonesia dalam mewujudkan Indonesia yang benar - benar merdeka, sejahtera, cerdas, dan kuat. dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika Kita melangkah hanya untuk satu tujuan dan demi NKRI !


Salam PEMUDA INDONESIA


Dalam Rangka Memperingati

SUMPAH PEMUDA


28 Oktober 1928 - 28 Oktober 2010

Post via Facebook by: Dedi Harianto Lubis

Jumat, 01 Oktober 2010

ANCAMAN TERHADAP JATI DIRI BANGSA

Dengan Era reformasi seharusnya kita semua merekonstruksi kembali nilai - nilai luhur budaya bangsa yang telah pudar, untuk tidak dikatakan hilang. Reformasi harus memberikan pencerahan bagi bangsa dan masyarakat, Namun sangat disayangkan sebagian besar dari kita semua berjalan dengan keinginan masing - masing, sehingga tujuan yang akan dicapai tidak pernah kesampaian. Sekali lagi kita wajib bersyukur dengan masih berdirinya bangsa ini.

Kita harus senantiasa sadar bahwa penjajahan dimuka bumi ini tidak akan pernah berakhir. Penjajahan secara fisik memang telah berakhir. Akan tetapi penjajahan melalui jalur non fisik seperti penjajahan budaya selalu datang untuk merusak nilai - nilai budaya kita. Harus diingat bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa Yang besar. Sejarah peradaban manusia bisa tetap bertahan asalkan bangsa itu mampu mempertahankan identitas/jati dirinya sebagai sebuah bangsa.

telah Lebih satu dasawarsa reformasi bergulir, harapan yang diharapkan oleh para pencetus reformasi yang meruntuhkan rezim orde baru ternyata tidak kesampaian. Mahasiswa dan masyarakat yang menginginkan perubahan, kesejahteraan dan kemakmuran, ternyata terbelenggu dengan penderitaan yang berkepanjangan, mulai dari krisis ekonomi, budaya, keamanan, politik, dan lainnya. Apalagi Krisis multi dimensi, reformasi semakin mengarah ke pada orde yang melupakan sejarah dan terjerumus kedalam NEOLIBERALISME, KAPITALISME, Dan NEOKOLONIALISME.

cita - cita yang dahulu di cetuskan oleh bung karno dalam Trisakti " BERDAULAT DIBIDANG POLITIK, BERDIKARI DI BIDANG EKONOMI, BERKEPRIBADIAN DI BIDANG KEBUDAYAAN " hanya tinggal sebuah cita - cita yang tertulid didalam buku sejarah bangsa ini, bahkan tidak satupun dari cita - cita itu terwujud.

Saat ini Kita perlu menyadari bahwa neokolonialisme tidak lagi menggunakan senjata untuk menguasai kekayaan negeri - negeri yang dahulu terjajah, mereka menggunakan elit bangsa yang telah dicekcoki dengan pikiran - pikiran kebaratan dan bersedia membantu mempraktekan neokolonialisme lewat pembentukan berbagai undang - undang, Termasuk amandemen UUD 1945 yg merupakan awal masuknya kepentingan asing ke negara republik INDONESIA.

Pancasila sebagai ideologi bangsa tidak lagi menjadi pedoman dan alat pemersatu bangsa ini, Sejak reformasi bergulir telah banyak pancasila tersakiti oleh ulah anak bangsa sendiri, sadar atau tidak, banyak dari kita yang tidak lagi berpikir bahwa bangsa ini terbentuk dengan pengorbanan darah dan jiwa hanya untuk satu tujuan kemerdekaan dan kejayaan bangsa indonesia.Persatuan dan kesatuan bangsa yang dahulu telah diikat dengan semangat semangat nasionalisme dan patriotisme oleh para pendahulu bangsa ini tidak lagi merekat kuat, bahkan telah mulai terpecah, hanya dengan sebuah kepentingan, dan sangat disayangkan para elite pun telibat dalam penjerumusan bangsa dengan retorika politik dan kebebasan, masyakat pun terbuai dengan suara demokrasi yang tidak jelas karakternya.

Jika harus bertanya bukti, cukup sudah berbagai peristiwa - peristiwa yang kita saksikan untuk menjadi tolak ukur penilaian kita masing - masing, hingga bangsa lain pun berani melecehkan kedaulatan bangsa indonesia dengan cara - cara yang vulgar dan terang - terangan, Peringatan 1 Oktober yang merupakan moment kebangkitan perjuangan terhadap Mempertahankan Jati diri bangsa hanya tinggal moment sejarah yang diperingati melalui sebuah upacara seremonial, didalam kehidupan berbangsa dan bernegara itu tidak lagi kita jadikan jiwa kita.

Bahkan Mungkin dari kita masih ada yang lupa Bunyi dari kelima sila pancasila, atau bahkan disekolah - sekolah dasar hingga menengah atas pelajaran tentang ideologi bangsa tidak lagi menjadi pendidikan yang harus mendapatkan prioritas ??

Sudah Selayaknya Kita terbangun secara bersama - sama bahwa saat ini meskipun belum begitu terasa bagi sebahagian rakyat indonesia bahwa " ANCAMAN TERHADAP JATI DIRI BANGSA " telah berada pada kondisi yang sangat parah, dan Kita Semua memiliki tanggung Jawab untuk Melakukan Penjagaan dan Perawatan agar JATI DIRI Kita tetap Kokoh dan KUat.

Selamat Memperingati HARI KESAKTIAN PANCASILA 1 OKTOBER 2010

WARNING !
PKI GAYA BARU TELAH MUNCUL !


Tertanda

SATUAN MAHASISWA PEMUDA PANCASILA

SATMA - PP KOTA PEKANBARU

Post via Facebook by: Dedi Harianto Lubis

Sabtu, 18 September 2010

INDONESIA TANAH AIRKU

Setelah Lebih dari setengah abad Bangsa Ini Merasakan kemerdekaannya, dan sudah banyak mungkin yang berkembang di bangsa ini, baik itu infrastruktur, ekonomi, pendidikan, politik, sosial, hukum, dan lainnya. Tiga orde besar telah dilalui bangsa ini, mulai dari orde paling lama, orde baru, dan sekarang orde paling baru yang sangat di banggakan oleh bangsa ini, sudah silih berganti negeri ini mencoba - coba yang katanya putra - putri terbaik bangsa untuk menahkodai perahu besar ini...namun bukan lebih baik dari yang sebelumnya justru semakin banyak rakyat yang mengelukan kondisi bangsanya....namun kita patut bersyukur bangsa ini masih ada,...Memang setiap pemimpin bangsa ini memiliki plus minusnya, hal itu wajar sebagai manusia biasa yang memiliki posisi sama dengan rakyat lainnya.

Khusus untuk orde saat ini, saya memiliki pandangan ( hanya pandangan Anak ingusan yg ga tahu apa2 ), entah kenapa ada pemikiran kekhawatiran tentang bangsa ini, hal ini terjadi karena banyak nya persoalan yang tidak sepatutnya muncul namun terjadi, sebagai Negara yang mengangungkan demokrasi yang kebablasan, bangsa ini masih belum bisa menata sistem politik yg dinamis, dan masih banyak hak - hak politik rakyat yang terabaikan, bukan hanya itu, kewajiban negara yang seharusnya memperhatikan rakyat fakir miskin dan anak - anak terlantar tidak memperlihatkan tanggung jawabnya untuk itu, disisi lain hak untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari - hari sebahagian rakyat yang tergolong menengaj kebawah juga sering di usik hany dengan alasan2 yang tidak masuk akal anak kecil.

Penegakan hukum yang masih terlihat pandang bulu, aparat hukum yang masih bisa di beli, dan aturan - aturan yang dibuat tanpa kajian - kajian mendalam semakin menambah perjalanan hitam bangsa ini, belum lagi masalah dis intregasi bangsa yang semakin mencuat, adanya benih - benih konflik yang berbau SARA, dominasi Politik kekuasaan yg semakin menggila, aset2 nasional yg di jual dan terjual, ketahanan nasional yg mulai rapuh, jati diri yg telah memudar, dan politik adu domba yang di mainkan para elit. perkembangan Politik yang semakin tidak dinamis dan pemanfaatan kekuasaan untuk menutupi kekotoran yang mencuat, hal ini semakin membuktikan bahwa bangsa ini belum juga mampu menjadi diri sendiri yang merdeka.

Beberapa kali masalah datang menghampiri, namun terlihat bahwa pemimpin bangsa ini masih belum memiliki karakter kuat sebagai pemimpin negara yang memiliki keberagaman sangat kompleks ini, baru saja harga diri bangsa di lecehkan oleh tetangga kecil kita, budaya di curi, kedaulatan di usik, rakyat disiksa, dan kita tidak mampu menunjukan bahwa indonesia adalah macam asia.

Ditanya Kesejahteraan, masih banyak rakyat yang merasakan susahnya memakan nasi, bahkan masih banyak anak2 kekurangan gizi, putus sekolah, dan tidak mendapatkan pelindungan hukum. Tampak jelas bahwa rakyat bukan lagi prioritas bagi penguasa negeri ini untuk di sejahterakan, namun justru pengusaha dan pemodal asing yang menjadi tujuan utama untuk di beri fasilitas. susahnya mencari lapangan kerja dirasakan juga oleh para sarjana, kesenjangan sosial dan pendidikan masih dirasakan saat kemerdekaan sudah di usia 65 tahun ini. Lalu Timbul pertanyaan di pikiran ini, APA SEBENARNYA Yanga TERJADI dengan BUMI PERTIWI INI ??

Negara tanpa idiologi yang jelas, tanpa sistem pemerintahan yang pasti, tanpa sistem hukum yang kokoh, tanpa sistem pendidikan yang pasti ( Tanda Kutip ), tanpa pemimpin yang berkarakter, tanpa sebuah demokrasi yang berciri khas, tanpa pembagian kekuasaan yang benar, semua selalu menimbulkan sebuah masalah baru...sejak Reformasi Bergulir, negara ini justru memiliki masalah baru yang lebih kompleks dan akut.
Beberapa hal yang menjadi dasar pemikiran yang cukup mengkhawatirkan :

1. Semakin lunturnya jiwa nasionalisme generasi muda, ( karena semakin minimnya pelajaran sejarah bangsa dan penanaman idiologi yang baik )

2. Seringnya timbul ketegangan antar umat beragama ( Meskipun telah di atur jelas didalam UUD 1945, UU, PP, PANCASILA )

3. Timbulnya kelompok2 yg mengatas namakan etnis ( kembali ke era sebelum sumpah pemuda )

4. Semakin maraknya kejahatan

5. Penegakkan hukum yang sering di politisasi ( banyak kepentingan penguasa dan terkesan masih tebang pilih)

6. Kebebasan yang tidak lagi terkontrol dengan baik dan menimbulkan kebebasan yang berlebihan.

7. Semakin berkurangnya aset2 nasional ( karena di jual ke pihak asing )

8. Tidak di berdayakannya putra - putri bangsa yang memiliki keahlian khusus ( org2 pintar tak terpakai )

9. Tidak adanya program prioritas yg menjadi unggulan untuk kemajuan bangsa ( Pendidikan hanya sebagai penghias, politik lah yg menjadi unggulan, hahaha )

10. Seringnya terjadi penggusuran, dan penindasan terhadapa rakyat miskin ( demi kepentingan Investor asing, dan keindahan, rakyatpun di korbankan )

11. Tidak beraninya pemerintah membangun industri besar sebagai lapangan kerja bagi rakyat ( biar aja perusahaan asing yg megah2, payah )

12. Aset-aset agraris tidak lagi di kuasai oleh pribumi ( investor asing memberi fee besar untuk pemerintah, rakyat jadi pembantu teruslah )

13. Hutang luar negeri entah untuk apa

14. SDA di jual keluar negeri meskipun untuk dalam negeri kekuangan, ( uang luar lebih besar nilainya, Materialisme )

15. Intervensi asing masih mendominasi para pemimpin negeri ini.

16. Otonomi yang menimbullkan fanatisme daerah berlebihan.

Hal-hal tersebut mungkin sudah lebih dulu dipikirkan oleh para elite dan penguasa negeri ini, namun pembiaran terus terjadi, dan pada titik klimaks yang sudah akut barulah mungkin mereka kebakaran rambut, dan semakain panik. pantas saja banyak yang risau dengan kelangsungan negeri yang kaya raya ini, karena masih banyaknya masalah yang terus ditimbulkan oleh pemegang semua kendali di setiap lini yang berkuasa. atau ada kemungkinan memang intervensi intelijen asing turut berperan dalam setiap kekacauan atau masalah yang timbul di INDONESIA ???

Post via Facebook by: Dedi Harianto Lubis

Senin, 28 Desember 2009

CIptakan Perubahan

Dengan terpilih nya saudara Ronald Akhyar.SH sebagai Ketua Satuan Mahasiswa Pemuda Pancasila Kota Pekanbaru dalam musyawarah bersama lembaga Satuan Mahasiswa Pemuda Pancasila Kota Pekanbaru pada Rabu 16 September 2009 yang di hadiri oleh 4 perguruan tinggi (unri,uir,unilak,uin suska) dan satu sekolah tinggi (stikes hangtua) yang terdapat di Pekanbaru, yang mana musawarah memutuskan saudara Ronald Akhyar.SH  sebagai Ketua Satma PP Pekanbaru secara aklamasi. Kemudian dalam musyawarah itu juga di pilih dody Fernando sebagai wkil ketua  dan riski juliandi sebagai sekjen yang baru.

Dengan terpilih nya ketua satma yang baru diharapkan akan membawa perubahan yang baik demi kemajuan lembaga. Besar harapan kepada saudara Ronald Akhyar.SH sebagai Ketua Satma PP yang terpilih membawa suatu gebrakan besar terhadap lembaga ini dan terhada lingkungan di sekitar, di harapkan lembaga ini kedepan nya akan menjadi lembaga solutif, cerdas dan bermarwah serta bisa menjadi lembaga mahasiswa yang berani mengkritisi terhadap kebijakan yang bias berimplikasi pada kerugian yang diderita oleh  masyarakat.

Pelantikan akan segara di laksanakan secepat nya. Insya Allah akan dilaksanakan pada awal januari 2010 agar supaya mendapatkan ligitimasi secara hokum, dalam pelantikan ini juga akan di hadiri oleh walikota pekanbaru,ketua DPRD kota pekanbaru,unsur muspida yang ada di pekanbaru,ketua MPC pemuda pancasila kota pekanbaru, tokoh masyarakat, seluruh kelembagaan internal kampus,semua organisasi paguyuban yang berada di kota pekanbaru, dan semua  OKP yang ada di pekanbaru serta seluruh basis yang suda terbentuk di seluruh fakultas yang ada di perguruan tinggi di pekanbaru. Pelantikan ini diperkirakan akan di hadiri oleh ribuan mahasiswa yang tergabung dalam lembaga satma pp kota pekanbaru, diluar  dari undangan yang akan turut  hadir dalam memeriahkan acara pelantikan tersebut.

Dalam hal ini, saya Dody Fernando selaku penerima amanah Wakil Ketua Satma PP Kota Pekanbaru, dan juga sebagai Ketua Panitia Pelantikan ini sedang disibukkan pada segala bentuk persiapan acara ini. Kami juga berharap mendapat dukungan dari seluruh stake holder yang ada di Kota Pekanbaru, demi terselenggaranya dan suksesnya acara tersebut. Mohon do’a restunya.
“Sekali Layar Terkembang, Surut Kita Berpantang”