Sekali Layar Terkembang Surut Kita Berpantang...

Rabu, 27 Oktober 2010

DILEMATIKA HIDUP SANG AKTIFIS


Dipagi yang cerah itu, matanya terbuka disela-sela nafas menghirup udara pagi, sembari duduk menatap mentari yang gagah berani memberikan cahaya silau bagi mereka-mereka yang menatapnya..hatinya sejenak terpaku dan berpikir tentang rentanya zaman yang menuntut manusia harus berpikir keras..!! Bumi pertiwiku dulu tumpahan darah dari pejuang-pejuangmu begitu besar demi membebaskanmu dari penjajahan belanda dan sekutu, namun kini tetap saja hegemoni kapitalisme dan penjara-penjara birokrasi menjadi hantu ditengah kota atas kaum-kaum proletar yang berada dipangkuanmu...kenapa potret kehidupan ini menjadi imagemu ditengah-tengah peraban dunia???!!

Yah...itulah yang ada dibenaknya pagi itu, tanpa sadar mentari terus berjalan menuju arah siang..hari ini aku harus kekampus menunaikan dan melanjutkan kewajibanku dibidang pergerakan ataupun dibidang akademis, dengan langkah kaki yang cukup jauh sang aktifis itu menuju tempat perjuangannya..dunia kampus yang konon identik dengan kaum-kaum yg intelektual dan kaum-kaum yang pintar, namun lagi-lagi matanya sedikit tak berkedip ketika sejuta idealisme yang ingin ia bawa malah terbentur oleh sikap-sikap apatisme dan hedonisme ditambah lagi dengan penghuninya yang hanya bergaya style..apakah ini kampus FISIP atau kampus model??!! Pertanyaan itu ia buang jauh-jauh sebab ia sadar ia hadir bukan untuk menjustifikasi orang lain,.!! Sang aktifis terus mengitari kampus yang disesaki oleh aktifitas belajar mengajar, kembali ia berfikir ketika melihat lembaran-lebaran daftar hadir bergulir dan silih berganti ditanda tangani oleh mahasiswa/i . absensi, sistem SKS, dll....apakah benar ini hanya simbol mekanisasi pendidikan yang sebenarnya kontradiktif dengan nilai-nilai ideal mahasiswa?? Kenapa simbol itu menutup mata mereka melaksanakan tridharma perguruan tinggi yang ketiga?! Apakah mereka mahasiswa atau sekadar orang kuliah??

Duch...Kampusku, identik dengan kehidupan akademik dengan kehidupan mahasiswa yang beragam dan unik, serta dalam setiap langkahnya pasti membawa cerita yang berbeda. IPK menjadi mimpi indah bagi mereka, Ada beragam sisi yang ia lihat, sisi yang mampu membawa setiap insan mahasiswa yang terlibat di dalamnya untuk bercengkrama, berdiskusi, berpolitik kampus, ataupun hanya sekedar datang dan pulang tanpa membawa kesan.

Pesta, buku dan cinta. Tiga paket kebijakan yang tidak pernah lepas dalam kehidupan kampus, dan identik dengan kehidupan mahasiswanya. Pesta bisa di artikan secara harafiah ataupun secara occasionally disesuaikan dengan keadaan yang terjadi. Tetapi, pesta sudah diidentikkan dengan keadaan bersenang-senang untuk menghabiskan uang dan mendapatkan kepuasan sesaat untuk kemudian menagih pada hari-hari berikutnya. persinggungan dialogis antara ketiga kutub ini memungkinkan terbangunnya pertentangan bagaimana “bermahasiswa” yang kontekstual..!! sahabat-sahabatku, kata-kataku ini bukan untuk mendiskreditkan dirimu...ini hanya seberkas bahasa hati kecil ditengah badai yang menyapa..!!

Dengan sikap yang tertegun hati kecilnya berkata: ya Rabb...peradaban dunia dengan segala arus modernisasi begitu kejam, sucinya bumi pertiwi disesaki oleh elit-elit politik yang telah dijejali pelacur-pelacur matrealis yang korup, yang libido kerakusan mereka telah terangsang oleh uang, doktrinitas kekuasaan telah membuat manusia menjadi pemangsa bagi manusia lain, makluk suci yang Engkau ciptakan malah menelanjangi kehormatan mereka sendiri dengan sikap-sikap praktis dan pragmatis, ini telah terjadi dibumi pertiwiku...lantas apakah pantas jasad-jasad yang berjiwa dikampus ini hanya diam?? Apakah mereka tuan-tuan terjajah atau malah budak-budak peradaban?? Ya Rabb...Engkau maha pengasih dan penyayang, bukakanlah hati mereka-mereka yang selalu diam dan terdiam..!!

Ss..ss..tt...nafasnya kian ia tarik dan mencoba melawan kehampaan, tarik ulur kehidupan membuat ia tak ingin seperti layang-layang yang terbang tanpa angin, panca indra yang berlidah ia coba gunakan untuk berkoar-koar ditengah mereka-mereka yang lupa dan terlupa, mencoba menyadarkan hati-hati yang tersakiti skalipun hati itu hanya diam tanpa tuntutan, kawan-kawanku...hari ini kau masih hidup, engkau masih ada tempat untuk berdialetika dengan waktu, beretorika melawan kebijakan yang telah terdistorsi oleh bahasa-bahasa kebohongan,.!! Bahkan melekul-melekul dan gumpalan darah yang mengalir disekujur tubuhmu ingin menyaksikan dirimu memperjuangkan sebuah kebenaran bukan hanya melakukan pembenaran. Relakah kalian jika torehan sejarah yang tercipta oleh pendahulu-pendahulu kita ketika malari, mei 1998, pudar oleh sikap hidup tanpa kesadaran,..!! menjadi generasi-generasi tanpa juang?!! tutur dan kata itu terus ia dendangkan walaupun cuek dan sikap apatis yang menjadi jawaban atas kata-kata itu..!!

Dibalik tangan-tangan perjuangannya yang ingin ia terapkan ternyata sederet harapan tentang cinta tersembunyi didalam tata warna kehidupannya, namun ia coba menepis kuat rasa itu...tapi terlalu naif memang jika ia harus berbohong pada jiwanya yang mulai rapuh oleh dunia yang terlupa, Tidak...aku tidak mungkin menzhalimi diriku hanya karna ego atas mimpi yang terpulang, jiwa ini membutuhkan senyuman dari orang lain yang hal itu adalah special dan bukan hal yang parsial, tapi aku juga tak ingin terjebak pada alibi yang mengatakan wanita adalah simbol kelemahan, aku percaya bahwa sentuhan-sentuhan hati itu bisa aku konversi menjadi sebuah kekuatan dalam langkah yang mulai luntur, tapi dimana aku harus mencari...didalam keramaian atau dalam kesendirian, didasar lembah kegundahan atau dipuncak kegembiraan?? Tuhan bukakan hamba tabir rahasia itu..

Dualisme tentang pergerakan dan cinta menuntut ia harus mampu bersikap dewasa,.didataran kota ini, dibumi yang kupijak dan bumi yang aku junjung adalah saksi tentang aku yang harus berguna untuk orang lain, melihat bagaimana tangisan-tangisan disudut kota, perempatan jalan yang berisi mobil mewah tapi disampingnya berdiri orang lemah yang termarginalkan oleh keadaan, ditambah lagi melihat koruptor yang menyebar dan menebar dosa diselingi bandit-bandit intelektual yang tertawa dibalik gedung-gedung mewah..!! Tuhan..tumpulnya tatapan mataku, dan lunglainya tulang belulangku aku membawa jutaan doa yang aku hadapkan kepada-Mu, sambil merenungi diri apa aku pantas bergelar aktifis?? Aku selalu menyebut ”Hidup Rakyat” namun ketika aku makan pernahkah aku berpikir tentang mereka-mereka yang belum makan?!! Engkau maha hidup sedang hamba makhluk binasa, tapi salahkah hamba ketika bermimpi untuk merenkonstruksi hidupku dan hidup orang lain, mencoba melawan dosa-dosa politik sang penguasa yang terus bersenggama dengan kedholiman..!!

Sang aktifis menyadari bahwa zaman adalah nyanyian waktu, ia takut idelisme yang ia bawa hanya cerita indah saat ini dan hanya puisi-puisi tinggi bagi mereka yang hanya komentator bukan eksekutor, dan ia tak ingin tergoda oleh panggung-panggung sandiwara dunia yang menjanjikan keasyikan namun penuh ketiadaan..

Ditengah deru nafas yang berlalu dan darah yang selalu mengalir otaknya kembali berfikir tantang kata sang dosen yang memberi arahan kepada sang akitifis bahwasanya seorang aktifis sering kali tak bersentuhan dengan romantisme cinta, namun jika aktifisme itu membuat wanita terpesona kenapa tidak memanfaatkan keadaan??!! Ha...ha...ha......ia tertawa, tidak,,,,,apa pantas aku disebut aktifis sementara aku belum intens dalam memberikan gerakan-gerakan yang kontibutif dan secara signifikan untuk mengubah ribuan kebijakan sesat dibangsa ini, tapi gelar aktifis itu semoga bisa menjadi stimulasi demi membangkitkan jiwa-jiwa yang rapuh..!!

Kembali pada pemikiran itu ia mencoba mendiskripsikan tentang dualisme aktifisme dan cinta, hati kecilnya dipenuhi jutaan spekulasi yang menghadirkan persimpangan..sang teman kembali mengingatkan kepadanya bahwa seorang aktifis diciptakan untuk melawan penindasan, wajar jika aku berpikir, jika aku selalu berbicara tentang penindasan kenapa aku harus menindas diriku sendiri hanya karena takut terjebak pada pesta, buku, dan cinta??? Mungkin ini paradigma pemikiran yang salah....!! Yach...kenapa aku terlalu subyektif mendefinisikan cinta? Padahal setiap perjuangan itu idealnya berlandaskan cinta.... cinta keadilan, cinta kepada tanah air..dan mungkin cinta kepada orang yang pantas untuk kita sayangi..!! Tanpa sadar kita sering menjadi manusia yang fatalis...!! Sadarkan aku Tuhan....aku bukan malaikat yang tak mempunyai rasa ataupun makhluk yang sempurna, aku juga butuh kasih sayang dari orang lain...aku harus berani melawan kehampaan itu..!!

Dilematika hidup itu terus ia jalani seiring waktu dan alur kehidupan, mencoba menginterpretasikan tentang hidup dan kehidupan, aku harus sadar karena hidup tanpa kesadaran bagaikan jasad tanpa jiwa, dimensi hidup tentang cinta, masa depan, aktifisme harus mampu aku genggam, demi sebuah pengabdian antara ciptaan kepada Tuhan, antara anak kepada orang tua, serta antara laki-laki kepada wanita, jika aku terpaksa kalah pada medan pertempuran maka aku harus menang pada medan peperangan, aku takkan menyerah walau lelah selalu hadir dipundakku..

Masih teringat jelas diotaknya dan masih tergambar jelas dipelupuk matanya ketika ia dan kawan-kawan membawa aspirasi dihalaman salah satu institusi penegak hukum, ditengah orasi yang terus diperdengarkan diantara massa aksi ia kembali berpikir, dikantor ini adalah simbol dari penegakan hukum namun kenapa selalu diisi oleh penghuni-penghuni yang selalu terbutakan oleh keasyikan dunia? Sistem hirarki komando menjebak penghuninya menjadi komoditi utama sang penguasa dalam mempertahankan kekuasaan, aparat-aparat keamanan itu tanpa sadar telah menjarah keamanan rakyat, menjadi budak-budak penguasa dalam melegitimasi bentuk-bentuk penjajahan keadilan rakyat, diwaktu itu yang ada dalam hatinya adalah tentang perjuangan, hati kecilnya berkata..andai sang wanita itu ada apakah ia akan mengizinkan aku mengorbankan segenap jiwa raga demi mereka yang tertindas? Jika disini hadir kedua orang tuanya apakah orang tua itu akan mengizinkan sang anak bertempur ketika dihadapannya berdiri gagah water canon dan gas air mata?? Bunda relakan darah juang kami, ini adalah persinggungan hati dan logika..!!......plat nama jalan yang bertuliskan nama sang pahlawan jendral sudirman membangkitkan ia dari ketakutan, andai peluru-peluru yang tersimpan dibalik etalase megah Mapolda itu telah bertuliskan namaku....maka jasad yang berjiwa ini tak akan pernah gentar dan tak akan tertindih oleh ketakutan, karena hal itu hanya akan membawaku pada tatanan hidup yang penuh kemandulan.

Pasca kejadian itu tersiar kabar bahwa sang aktifis dan beberapa temannya yang lain menjadi target operasi (TO) oleh institusi itu, ia mencoba menepis dan menyadarkan dirinya mungkin ini hanya sekadar gosip, namun jika hal ini benar maka ia harus yakin bahwa Tuhan adalah penjaga terbaik bagi dirinya, batasan hati dan logika akan selalu membuatnya tersenyum sambil membawa mimpi-mimpi indah itu kedepan, kamuflase pemikiran itu harus aku rangkai agar eksebilitas kehidupanku menjadi lebih baik, bukankah lebih baik mati di garis perjuangan dibanding mati dilumbung kemunafikan, bukankah kupu-kupu yang berani terbang diatas api lebih mulia dibanding tikus-tikus yang selalu bersembunyi??!!

Ia terus berjalan mencari kata melangkah pada jejak-jejak yang tersisa dan merangkai sebuah etika yang tumbuh diatas pelangi harapan, wahai kata temui aku dialam sadarku, korelasi antara perjuangan dan romantisme cinta harus aku temui disini, bodoh sekali rasanya jika harus menjalani hidup layaknya seorang terdakwa yang menanti eksekusi hukuman mati, padahal hari esok masih ada kesempatan untuk berbicara dan berdinamika dengan sang waktu, sombongnya gedung-gedung bertingkat dan congkaknya negeri ini adalah tantangan berat bagi sang pejuang, dan semoga sang pejuang tak terjebak pada transformasi pemikiran kaum-kaum intelektual yang telah terkontaminasi oleh penjahat-penjahat keadilan, dan disinilah kawan-kawan harus berdiri membukakan jalan kemanusiaan itu.

Semoga catatan singkat ini bukanlah catatan orang-orang mati yang terlambat diucapkan, bukan hanya sekadar mengisi ruang namun miskin makna....sebuah kata adalah senjata untuk sebuah perenungan jiwa bagi mereka-mereka yang mampu berpikir, perjalanan masih jauh sang aktifis akan terus melangkah mencari arti tentang hidup dan kehidupan, tentang perjuangan dan cinta dengan sejuta warna yang terkandung didalamnya, karena perjuangan hanya akan selesai bila hidup telah usai..!!

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. Ar-Rahman [55:13])

Post via Facebook by: Rachman (Ketua Satma PP Korti UNRI)

1 komentar: